Thursday, 17 September 2020

Air Mata Muara Kasih Bunda

 

 Orang tua mana yang tak terluka, hancur, remuk hatinya, ketika mendengar anaknya dalam keadaan sedang tidak baik-baik saja?


Sebuah karya; Disisi Saidi Fatah (@pecandusastra96) 


PAGI itu jam menunjukkan pukul 06.30 waktu setempat. Usai melaksanakan sholat subuh di gubuk miliknya, Bu Muslimah melanjutkan aktivitas pagi itu dengan mencuci pakaian yang telah menumpuk dalam mesin cuci di beranda dapur. Sembari menyelingi mencuci pakaian, ia membersihkan beranda rumah dan menyapu halaman. Nampak dedaunan kering di musim kemarau berguguran jatuh menutupi paving block yang tertata rapi di halaman rumah miliknya.

Suasana pagi buta yang tak berembun itu cukup sejuk, sepoi angin kemarau menambah semangat Bu Muslimah  sesegera mungkin menyelesaikan aktivitasnya. Ia sudah tak sabar menanti kerabatnya Bu Linda guna mengajaknya untuk menyusuri sudut-sudut kampung sembari jalan santai pagi itu, hal itu sudah menjadi aktivitas rutin tambahan bagi warga Gang Kenanga, terutama para kaum bapak-bapak dan ibu-ibu yang sudah lanjut usia untuk berolahraga pagi.

"Selamat pagi Bu Muslimah, rajin sekali nampaknya, pagi begini sudah sigap membersihkan halaman," sapa Bu Linda mengagetkan.

Kedatangan kerabat sekaligus tetangganya itu mengejutkan, ia sama sekali tak tahu jika kerabat yang ditunggu telah berdiri di belakang nya, sebab ia sangat menikmati kesibukan menyapu dedaunan yang berguguran.

"Akhirnya datang juga kau Lin, sedari tadi aku menanti kedatanganmu," jawab Bu Muslimah. –“Musim kemarau membuat dedaunan berguguran, jadi menambah kesibukan di pagi hari, ya sembari mengeluarkan keringat tak apalah biar sehat," tambahnya.

Usai bercengkerama singkat dan membersihkan halaman rumah, Bu Muslimah dan Bu Linda jalan santai menyusuri komplek perumahan serta keliling RT setempat, sembari menjumpai ibu-ibu yang pada ngerumpi.

Berbagai topik mereka perbincangkan, mulai dari harga sembako yang semakin hari makin mahal, pendapatan yang semakin berkurang, ditambah topik yang sedang hangat-hangatnya diperbincangkan; yakni tentang karyawan-karyawan yang banyak terkena pemutusan hubungan kerja (PHK) oleh perusahaan. Situasi ditengah pandemi covid-19, virus corona yang melanda dunia menjadi prihatin ibu-ibu komplek, ada yang sedih sebab pemasukan berkurang, ada pula yang mengkhawatirkan sanak keluarga yang berada di tanah rantau. Namun tak banyak pula yang acuh tak acuh terhadap situasi itu, bagi mereka hal itu hanya akan melanda kota-kota besar saja seperti ibu Kota Jakarta. Dalam benak mereka hanyalah bantuan serta uluran tangan dari pemerintah dan handai taulan yang baik hati.

Ditengah situasi hiruk-pikuk perbincangan pagi itu, tiba-tiba telepon Bu Muslimah bergetar mengeluarkan dering yang nyaring dari saku celana coklat tua bermotif kotak-kotak yang ia kenakan pagi itu. Nomor baru yang belum ia kenal menghubunginya. Ia nampak ragu menerima panggilan tersebut, namun semakin risi mendengar dentang suara yang disebabkan oleh benda persegi itu.

"Halo selamat pagi, dengan siapa saya berbicara," ujar  Bu Muslimah memberanikan diri bertanya.

"Selamat pagi bu, kami dari pihak kepolisian ingin menyampaikan bahwa anak ibu kami tahan," ungkap suara lelaki melalui jaringan telepon di seberang.

Mendengar kabar itu, hati Bu Muslimah bergetar, rapuh. Dalam pikirannya hanyalah Ilham, anak bungsu yang sudah dua bulan merantau ke kota guna mengais rejeki.

"Apa maksudnya, ada apa anak saya ditahan," suara Bu Muslimah mulai meninggi. Pikirannya kini kacau, ia tak mampu menenangkan diri. Darah tingginya mulai naik, binar mata mulai gemericik membentuk gumpalan-gumpalan kristal yang akhirnya pecah tak mampu ia bendung.

Suasana pagi itu mendadak kelam, sejuk terpaan angin tak lagi sepoi ia rasakan. Kabar itu merenggut semua seketika tanpa jelas. Apalagi saat ia mendengar teriakan anak lelaki dari dalam telepon, menangis sembari berteriak meminta tolong kepadanya.

"Bu, ibu tenang dulu, posisi ibu sedang dimana? Coba ibu pulang dulu ke rumah," pinta lelaki yang mengaku dari pihak kepolisian itu.

Dengan sigap Bu Muslimah melangkahkan kaki dengan cepat, tak ia hiraukan teriakan dari rekan yang memanggilnya satu-persatu. Langkah kakinya terseok-seok membuat ia terjatuh dan masuk kedalam selokan ditepi jalan. Ia kembali bangkit dan mempercepat laju langkah kaki, sesegera mungkin ia berharap sampai di rumah.

"Nak, nak," suara tinggi Bu Muslimah menggemparkan jagat rumah. Ia tak lagi mengucap salam taat kala memasuki rumah. Yang ada dalam benaknya hanyalah putra bungsu, Ilham.

"Ada apa Ma?" tanya Fatan tetiba dari bilik kamar, sontak ia terkagetkan taat kala mendengar teriak dari sang mama sembari menangis tersedu. Gagang sapu ijuk terlepas dari genggaman tangannya seketika.

"Adikmu Ilham ... kena musibah," tutur Bu Muslimah terbata-bata. Air matanya terus berlinang mengucur deras membasahi sekujur pipi yang mulai berkerut. –“Ia ditahan di kantor Polisi nak ..." tutur Bu Muslimah melanjutkan.

            Mendengar hal itu Fatan hampir terbawa perasaan sang mama, apalagi melihat kondisi mama yang hampir setengah sadar. Terduduk dilantai dalam balutan tangisan tersedu-sedu. Segera ia raih telepon dalam genggaman mama yang masih terhubung dengan penelpon yang ia katakan dari pihak kepolisian. Kendati hal itu membuat ia ikut syok, namun ia masih belum percaya akan informasi yang mama terima.

            Teringat dalam benak Fatan, jika Ilham adiknya selama ini baik-baik saja. Tak pernah ia terlibat dalam hal begitu, apalagi pergaulannya bersama orang-orang positif. Ia menyakinkan diri jika kabar adiknya itu hanyalah ilusi, tipuan belaka.

            “Halo, dengan siapa disana?” ujar Fatan menyambung telepon yang masih terhubung.

            “Iya halo, kami dari pihak kepolisian pak,” timpal suara yang terdengar sepi dari dalam telepon. –“Ini dengan siapa?”

“Aku anak ibuku, ada apa dengan adik ku?”

“Bapak coba tenangin dulu ibu nya,”

            Dengan kesal Fatan menuruti perintah lelaki itu, tanpa ia perintah pun Fatan sudah tahu apa yang seharusnya ia lakukan. Apalagi untuk seorang mama, selama ini ia berusaha manut akan titah sang mama, dengan itu ia harap akan mendapatkan ridhonya.

Orang tua mana yang tak gugur, hancur, retak hatinya, ketika mendengar anaknya tersandung musibah. Apalagi harus berurusan dengan hukum. Anak yang selama ini ia kenal baik, rajin beribadah, dan tak pernah terlibat pergaulan yang menyimpang, secara tiba-tiba harus berurusan dengan kepolisian yang entah apa penyebabnya.

            “Sudahlah, Mama tenangkan diri, biar Fatan cari tahu penyebabnya, semua kan belum jelas Ma!” tutur Fatan sembari menenangkan Bu Muslimah.

            Mendengar nasihat dari sang anak, Bu Muslimah mencoba menenangkan pikiran yang sempat berantakan. Kalimah istighfar tak henti ia lantunkan dengan tenang secara perlahan-lahan.

“Astaghfirullahaladzim. Astaghfirullahaladzim. Astaghfirullahaladzim,”

            “Halo,” tutur Fatan mencoba menyambung kembali komunikasi dengan lelaki yang katanya dari pihak kepolisian.

            “Iya halo, pak apakah ibu nya sudah tenang,”

            Tak sabar rasanya Fatan untuk segera melayangkan pertanyaan yang sudah mengantri dalam benaknya. Pertanyaan yang sempat ter-jeda beberapa saat itu akhirnya meluncur dengan tegas dari mulut Fatan.

            “Sudahlah pak jangan banyak basa-basi, siapa nama adik saya yang bapak tahan,”

            Lama tak ada satupun jawaban yang terdengar dari seberang. Hening, sunyi, sepi. Fatan mulai curiga akan hal itu. Jangan-jangan keluarganya sedang di prank seperti dalam acara televisi dan konten youtube yang kebanyakan enggak ada faedah nya sama sekali.

            Sesekali pikirannya melayang, mengatakan jika benar ia sedang di prank dan masuk program televisi hal itu pasti keren sebab sudah membuat seisi rumah panik. Dan hal yang pasti ia akan meminta imbalan sebab telah membuat sang mama syok.

            “Sebetulnya kamu siapa, ditanya kok malah diam,” seru Fatan.

            “Maaf pak, adiknya bernama siapa ya?” tutur suara itu kembali bertanya.

            “Sudahlah jika kamu memang benar seorang polisi, tak sepantasnya bertanya demikian. Kurang ajar, awas saja kau,” ucap Fatan dengan kesal seraya menutup telepon.

            Kata yang keluar dari mulut seorang Fatan tak mampu lagi ia tahan, puluhan ucap yang sepantasnya tak terucap kini ia lontarkan dengan seenaknya kepada lelaki yang mengaku dari pihak kepolisian.

            Selepas itu ia lanjut menghubungi nomor telepon Ilham, sang adik yang sedari tadi hendak ia telepon. Namun sejak melihat kondisi Bu Muslimah yang enggan mau tenang akhirnya ia terlebih dahulu meraih telepon yang ada di genggaman sang mama, untuk memastikan jika itu benar dari pihak kepolisian. Namun nyatanya bukan.

            Tiga kali ia mencoba menghubungi nomor telepon Ilham, namun sama sekali tidak ada yang berhasil terhubung. Akhirnya ia memutuskan untuk menelpon ke nomor Mas Frans kakak Ipar nya. Selama di tanah rantau Ilham tinggal bersama keluarga Mbak Halimah, saudara perempuan tertua mereka.

            “Halo selamat pagi, ada apa Fatan pagi begini menelpon?” jawab Mas Frans saat menerima telepon.

            “Mas dimana? Aku bisa bicara dengan Ilham?” tanya Fatan segera saat ia mendengar suara jawaban dari dalam telepon.

            “Tunggu sebentar ya, Mas panggilkan Ilham,”

            Setelah mendengar suara sang adik, Fatan langsung saja dengan sigap bertanya panjang lebar. Disisi lain Ilham kebingungan sebab pagi begini si abang menelpon tak seperti biasa. Apalagi pertanyaannya seputar dimana, lagi apa, bagaimana kabarmu hari ini, dan diakhiri dengan kata “Ya sudah jika demikian,” tanpa penjelasan yang jelas sambungan telepon itu segera terputus.

Peristiwa pagi itu benar-benar membuat kacau, seluruh isi rumah dibuat panik. Dari kejadian itu ia belajar jika dalam segala sesuatu harus disikapi dengan hati serta kepala yang dingin, pikiran yang tenang dan utamakan berpikir positif.

Setelah menenangkan sang mama, Fatan berpesan kepada semua agar lebih bijak dan berhati-hati dalam menerima informasi, apalagi informasi yang masih suram tak jelas entah-berantah asal-muasal nya. Dalam perkembangan teknologi jaman sekarang yang semakin canggih begitu banyak sekali pembohongan dan penipuan yang berkedok sebagai pemenang kuis hingga pada akhirnya ada pula yang menyatakan jika salah satu anggota keluarga sedang berada di kantor polisi, yang pada akhirnya tak bukan hanyalah meminta uang.

Lelaki itu juga berpesan kepada sang mama untuk ke depan lebih berhati-hati. Mengingat anak-anak sang mama banyak yang berada di tanah rantau ia mengingatkan untuk terlebih dahulu menghubungi yang bersangkutan atau menghubungi orang terdekat, agar informasi yang diterima tidak langsung termakan begitu saja. Sebab hal itu selain membuat panik diri sendiri juga dapat menyebabkan penyakit mudah menyerang taat kala kita dalam keadaan yang panik, disitulah jalan setan untuk mengelabui dan menguasai diri.

Disisi lain Fatan kini mengerti betapa besarnya kasih sayang yang dimiliki seorang ibu kepada anak-anaknya. Bagaimana pun dari peristiwa pagi itu ia belajar dan paham jika mama nya sangat sayang dan peduli kepada anak-anaknya. Hati siapa yang tak remuk jika mendengar kabar sang anak sedang tidak baik-baik saja.

Setelah semua tenang, Fatan mempersilakan sang Mama untuk berbicara kepada Ilham supaya hati sang mama lebih lega dan Ilham sang adiknya tidak juga bingung akan maksud ia menghubungi nya pagi tadi.


-----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

                                                                Gunung Sugih, Lampung Tengah, 15 September 2020

No comments

Post a Comment

Powered by Blogger.