Prolog || Ia Menanti di Surga
Ia menanti di surga merupakan sebuah catatan kenangan penuh makna yang aku tuliskan kata demi kata nan penuh luka dan duka. Semoga dengan lahirnya tulisan mini ini dapat menjadi memo kenangan yang tak pernah usang meski tertelan masa
Tujuh November dua ribu dua puluh merupakan hari yang begitu rumit dan paling aku benci kala itu, bahkan hingga kini masih belum sepenuhnya rela dan ikhlas. Pagi itu sekitar pukul enam lewat tiga puluh menit, usai membantu keluarga membersihkan sudut-sudut ruang rumah aku beranjak ke dapur membuat segelas teh hangat. Kala itu aku terlebih dahulu usai bersih diri, sebab pagi itu diminta untuk mengantar Yunda ku dinas di kota sebelah. Sembari menunggu hangatnya teh, aku mengambil handphone di atas meja televisi. Seperti biasa handphone ku-biarkan memainkan daftar putar youtube milik pribadi guna menambah jam tayang, akhir ini aku menyibukkan diri membuat konten. Selain memanfaatkan kuota agar tidak basi, ya hitung-hitung menambah kesibukan di sosial media ketimbang ikut menyebarkan berita bohong dan provokasi yang kurang berfaedah. Terkadang mama suka cerewet kepadaku, dengan kata “itu kenapa hape dibiarkan menjadi tontonan jin” atau “hape yang nonton kamu, bukan kamu yang nonton hape”.
Sewaktu melihat layar handphone, aku terkejut dengan pemberitahuan. Ada tujuh belas panggilan telepon tak terjawab dari salah satu kawan di kota dan satu diantaranya nomor baru, serta beberapa notifikasi dari whatsapp massanger baik pesan maupun panggilan tak terjawab. Sebab penasaran aku terlebih utama menghubungi kawanku, Yai Aria aku memanggilnya. Tak biasa sepagi itu ia menghubungiku dengan berulang kali, adakah hal yang amat penting?
“Halo,” ucapku menyapa.
Belum juga aku melanjutkan awal percakapan, Yai Aria terlebih dahulu memotong dan membuat aku kaget. –Serius mendengarkan.
“Si, apa benar bosmu meninggal,” tuturnya bertanya dengan pertanyaan yang menjanggal.
Aku mulai kebingungan dengan pertanyaan yang tak lagi ia teruskan.
“Siapa Yai?” jawabku penasaran, sembari mengingat orang yang ia anggap sebagai bosku. Terlintas sebuah nama yang kala itu sering ia panggil dengan sebutan bos dari pada diriku. –“Pak Gatot?” lanjutku penasaran.
“Iya. Benar apa?”
“Ah serius lu Yai?” sontak aku kaget. Yang benar saja informasi ini.
“Lha memangnya kamu belum lihat informasi beredar di whatsapp dan facebook. Bahkan pak bupati saja turut memberikan kabar duka itu. Aku kira kamu sudah paham, sebab aku bertanya kan kau dekat dengannya,”
Dengan gemetar aku meyakinkan diri untuk tidak mempercayai kabar duka tersebut dan memilih berfikir positif. Percakapan pagi itu kami putuskan dengan mencari kebenaran. Aku yang masih enggak percaya akan hal itu, terlebih utama mengkroscek melalui facebook. Serentak halaman beranda facebook milikku pagi itu dipenuhi dengan kabar duka dari beliau (Papa Gatot Arifianto), sahabat, kerabat, organisasi dan instansi, serta para pejabat turut bela sungkawa mengabarkan berita duka.
Diriku masih saja tidak percaya jika itu benar nyata, namun setengah badanku mulai gemetar dan lemas tak berdaya. Wajah beliau mulai terbayang melintasi cakrawala dan membunuh pikiran-pikiran positif yang barusan aku bangun. Satu persatu sahabat aku hubungi baik melalui facebook ataupun aplikasi pesan massanger lainnya, hasilnya sama. Dan setelah aku membuka whatsapp ternyata benar, baik di grup maupun secara pribadi banyak yang mengabarkan berita jika beliau telah tiada.
“Ya Allah, mengapa harus secepat ini? Bukankah beberapa waktu lalu beliau sehat-sehat saja?” tanyaku dalam hati.
Terakhir mendapat kabar papa dari Mama Susan (istri beliau), tepat pada hari raya qurban. Mama bilang beliau dan adik-adik sehat. Memang aktivitas beliau selama pandemi covid-19 hanya di rumah, tidak lagi ke luar kota sebagaimana biasa. Akhir ini beliau vakum dari kegiatan di luar dan menghabiskan waktu bersama keluarga serta beberapa kegiatan sosial kemanusiaan di wilayah lokal.
Aku terdiam, menatap tajam pada gambar beliau yang banyak dibagikan para sahabat, kerabat, dan juga orang-orang yang mengenal beliau. Foto dengan mengenakan sebuah kemeja yang aku suka, disertai sorban dengan warna sama berada di pundak kanan, dengan ciri khas senyum yang biasa menyemangatiku. Kalau tidak salah foto tersebut diambil ketika beliau menjadi salah satu narasumber pada diskusi kebangsaan dalam memperingati harlah Gus Dur yang diselenggarakan oleh Teater Jabal Tanggamus.
Serentak jagat raya memori kenangan pecah memenuhi alam pikiran yang sedang kacau. Netraku tak mampu menahan gerimis yang mulai membentuk kristal. Dinding-dinding pelindung perlahan memecah, terurai hingga dasar pipi.
Hatiku menangis, mataku tak lagi sanggup menjatuhkan air duka. Setelah mendapat kiriman foto suasana di rumah papa, tak sanggup lagi ku meneruskan segala aktivitas kala itu. Ingin sekali rasanya segera hadir, namun apalah dayaku ya Allah, dunia masih begini dan engkau tahu sendiri bagaimana kehidupan sedang menguji keimanan.
“Pa, maafkan aku yang tak bisa menemani hari terakhirmu dengan riang”.
Sekitar jam setengah dua belas siang beliau usai di kebumikan, bersama para sahabat dan keluarga. Aku menahan tangis sebab tak bisa hadir pada hari itu menemani beliau menuju peristirahatan terakhir. Hanya bisa menyaksikan detik-detik pemakaman melalui video hasil rekaman dari para sahabat.
Beranjak diriku mengambil wudhu agar sedikit lebih tenang dan beribadah kepada Allah, lalu berdoa untuk papa.
Hari kedua, Allah beri jalan bagiku untuk pergi ke kota melepas rindu pada jiwa yang tak temu. Di rumah beliau masih ramai, mama yang menyambutku mengusap rambut kepalaku dengan sedih yang nampak dalam dari raut wajahnya. Aku berusaha menahan air mata yang mulai membuncah, amat terasa kasih dan sayang papa mengalir dari sentuhan tangan mama.
“Ya Allah kak, enggak ketemu kau dengan papa,” ujar mama sembari mengusap kepalaku.
Aku berusaha mengukir senyum pada bibir, kendati hati menangis namun raut wajah berusaha menyemai tegar, agak tak tampak kesedihan. Aku ingin hadirku sedikit banyak mengurangi sedihnya mama, ya setidaknya tidak menambah lebam duka yang tengah beliau rasakan. Sebab itu tak tak sanggup bertanya lebih baik pada mama terkait perihal papa.
Mataku beralih kepada pandangan adik-adik yang riang sedang memainkan peran gembira, riuh tawa dengan teman sebaya. Mereka sama sekali belum mengerti akan dunia yang sedang dijalani, aku harap Allah meridhoi atas jalan yang ia hendaki kepada pasukan Netrahyahimsa yang amat ku sayang.
Usai berjumpa mama dan keluarga, aku pamit geser menuju makam papa ditemani tiga rekan dengan diantar oleh sahabat. Pemakaman tersebut merupakan lahan baru, terlihat sekitar hanya terdapat beberapa makam, dua diantaranya berada berdampingan dengan makam papa nampak tak begitu lama.
Sekujur tubuhku masih dipenuhi cemas, panas dingin terasa membuat bulu halus pada kulit tak tenang. Langkah gontai menyelimuti gerak demi gerak hingga sampai makam tertuju. Diriku semakin tertunduk layu tak kuasa menahan duka. Netraku nampak mulai berkaca-kaca, namun aku berusaha untuk tidak menjatuhkannya sebab aku tak ingin hadirku menjadi beban bagi papa.
Dengan penuh cinta dan tatapan dalam, aku memandang nisan bertuliskan nama papa. Seakan sedang berkomunikasi secara langsung dengannya. Rasa sesal kian mendera, saling menyalahkan.
Setelah beberapa waktu menenangkan diri, aku memimpin doa kala itu. Menjelang maghrib, aku memanjatkan doa kepada Allah supaya papa diberi ketenangan, begitu pula denganku dan mama serta adik-adik. Disusul dengan doa lainnya, yang diakhiri dengan al fatihah.
“Sejauh mana raga kita berpisah. Cinta dan kasih sayangmu akan selalu terasa. Sejauh mana jarak memisahkan kita, selama jaman mengubah waktu. Selagi diri ini masih diberi Allah kesempatan memanjatkan doa, aku yakin diantaranya namamu turut bertengger di sana.
Jasadmu boleh mati. Ruh-mu boleh pergi. Namun jiwa dan ragamu akan selalu hidup dalam setiap gerakan. Sebagaimana ilmu dan jasa yang tulus kau berikan. Love you dariku sahabat, anak, dan salah satu kader kebanggaanmu”
~ Pecandu Sastra | Sineas Lampung ~
---------------------------------------------------------------------------------
Follow instagram dan twitter (@itsme1disisi) dan subsribe YouTube Channel (Sultan Diamond).
---------------------------------------------------------------------------------

Leave a Comment