DIBAWAH RIDHO ABAH
Oleh : Disisi Saidi Fatah
"Dik, aku
akan segera melamarmu!" tutur Bang Alwi melalui pesan singkat kepadaku.
Malam itu
hatiku berbunga-bunga, riang gembira tak karuan mendengar kabar itu. Ternyata
benar bang Alwi menepati janji sebagaimana ia ucap waktu ketika aku boyong[1]
dari pesantren.
Kurang lebih enam tahun kita saling
mengenal sejak mengabdi di bawah atap yang sama. Aku merupakan perwakilan almamater cabang
ketiga, sedangkan Bang Alwi adalah alumnus pusat, pesantren yang saat itu
sama-sama kita tempati. Kala itu aku melanjutkan pendidikan sebagai mahasiswi
jurusan pendidikan Agama Islam sekaligus menjadi pembimbing santriwati yang
kerap kali dipanggil ustadzah oleh anak-anak, dan bang Alwi ia kala itu memilih
untuk menunda perkuliahan selama satu tahun sebab ia ingin fokus dengan hafalan
qur'an. Baru setelahnya ia mengambil jurusan bahasa dan sastra Arab.
Bang Alwi adalah sosok lelaki yang diidolakan banyak
santriwati, sikapnya yang lemah lembut, perhatian, dan penyayang, serta
kepiawaiannya dalam mendidik menjadikan dirinya banyak dikagumi, termasuk aku. Tak
hanya itu, kecerdasan Bang Alwi menjadikannya terpilih sebagai salah satu staff
terbaik pada penganugerahan tenaga pendidik madrasah pesantren dari pusat
hingga cabang ketujuh selama dua tahun berturut-turut.
Setelah mengenal Bang Alwi beberapa waktu, aku mulai
jatuh hati. Secara diam-diam aku menyembunyikan perasaan itu, tak sanggup
rasanya mengutarakan isi hati. Untuk sekadar menatapnya saja aku takut apalagi
sampai berbicara hal yang sejujurnya. seringkali aku memalingkan wajah taat
kali bertatap dengannya, sebab khawatir akan menjadi celah jin dan setan yang
menimbulkan dosa diantara kita.
Lambat laun perasaan itu kian tumbuh besar. Untuk
menyuarakan isi hati, kutumpahkan segalanya dalam buku catatan harian yang tak
seorangpun tahu.
Suatu ketika aku dan Bang Alwi tak sengaja saling
bertabrakan di depan Gedung Rektorat yang mengakibatkan buku kita berjatuhan. Sebab
terburu-buru buku agenda kita tertukar, kebetulan bukunya sama-sama berwarna
hitam. Hal itu baru tersadari ketika aku hendak menuangkan isi hatiku
sebagaimana biasanya, tak sengaja pada buku Bang Alwi aku menemukan sebuah nama
"Nabila" yang sontak membuatku kegeeran. Dalam hatiku membatin dan mulai bermunculan pikiran-pikiran aneh "Apa
Bang Alwi juga memiliki rasa yang sama?" atau jangan-jangan Bang Alwi sudah ada calon yang kebetulan namanya sama denganku! Rasa itu
segera kutepiskan.
Sejak saat itu, nama Bang Alwi
menjadi penambah dalam setiap doaku setelah nama kedua orang tua dan
para guruku.
Singkat cerita, sampai pada akhir
perjalanan masa pendidikan di perguruan tinggi, aku menyelesaikan kuliah dengan
baik dan mendapat predikat cumlaude.[2]
dan dari sinilah kisah kita bermula.
Setelah semua urusan perkuliahan
selesai, ayah dan bunda menyambangiku ke pesantren dengan maksud meminta ijin untuk
membawaku pulang ke rumah guna membantu
kegiatan belajar mengajar di madrasah milik ayah. Sejak hari itu
aku berpisah dengan Bang Alwi, seorang ustadz berprestasi yang selalu tersebut namanya
dalam doaku.
"Aku pamit
bang, jaga diri baik-baik," ujarku kepada Bang Alwi
setelah membereskan barang milikku di kantor madrasah.
Meski hatiku rapuh, aku berusaha tegar menerima semua.
Bagaimanapun ayah dan bunda adalah sosok yang tak mungkin aku lupa. Tanpa
beliau berdua apalah aku di dunia. Perpisahan itu tak menyurutkan rasa cintaku
kepada Bang Alwi.
"Iya dik, percayalah suatu saat nanti aku akan
menjemputmu!"
Kala itu aku tak mengerti sama sekali maksud jawaban dari
Bang Alwi ketika kisah berpisah. Hingga pada suatu hari ia memberi informasi
jika telah menghatamkan hafalan qur’an hingga 30 juz serta akan segera wisuda
sarjana.
Subhanallah, hatiku kian gembira mendengar hal itu.
Akhirnya apa yang Bang Alwi inginkan mampu ia wujudkan. Keistiqomahannya untuk
terlebih dahulu menjadi penghafal qur’an kini menjadi nyata.
Bang Alwi mengundangku untuk dapat hadir di acara wisuda
sarjananya, namun sebab kesibukan aktivitas di madrasah yang padat menyebabkan
aku gagal berjumpa dengannya.
Satu bulan setelah wisuda sarjana, Bang Alwi sowan[3] ke
rumah guna melamar. Kedatangan Bang Alwi tentu disambut dengan senang oleh ayah
dan bunda, orang tua mana yang tidak memperbolehkan anaknya dipersunting[4]
lelaki idamannya, apalagi seorang hafidz qur’an.
Setelah sesi lamaran, kedua orang tua kami berunding
untuk menentukan hari pernikahan. Sengaja tak dibuat jauh agar ikatan cinta
kami yang telah terjalin dapat segera disahkan, sebab tak baik jika
berlama-lama.
Pernikahan digelar ala kadarnya di kediaman orang tuaku,
tak ada pesta mewah sebagaimana pernikahan di kota-kota besar. Hanya sanak
keluarga serta kerabat terdekat yang diundang. Kendati demikian masih banyak
para tamu yang hadir meski mereka tidak mendapat undangan secara langsung.
Bang Alwi melantunkan Surah Ar Rahman dengan lantunan
syahdu dan lembut sebagai mahar nikah yang aku pinta. Aku memilih Surah Ar
Rahman sebagai tanda syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang beliau
berikan atas jawaban dari doa yang selama ini aku agungkan kepada-Nya.
Setiap lantunan ayat suci yang Bang Alwi bacakan
menggetarkan hatiku sampai ke lubuk yang paling dalam. Kabut menebal menutupi
kelopak mata, berlinang, mengumpal membentuk kristal, hingga tak mampu aku
tampung. Isak tangis memecah sunyi siang itu, tak henti mengucap syukur
kepada-Nya.
Sepekan, setelah pernikahanku dengan Bang Alwi. Kami
memutuskan untuk kembali ke kota sebab Bang Alwi masih punya tanggungjawab di
pesantren tempat ia mengabdi serta persiapan wisuda tahfidz qur’an 30 juz.
Sejak hari itu aku dan Bang Alwi menjalin kehidupan baru
dalam bingkai rumah tangga di kota. Kami menyewa sebuah rumah yang tak jauh
dari pesantren agar mempermudah Bang Alwi untuk mengabdi, sengaja kami memilih
untuk tidak tinggal di pesantren agar terbiasa mandiri.
Waktu berlalu, hari demi hari kami lalui penuh suka cita.
Pahit, asam, manisnya kehidupan telah terbiasa kami lalui. Hingga hadirlah
Azura buah hati pertama sebagai pelengkap keluarga kecil kami, lalu menyusul
Adiba, dan Alif sebagai buah hati kedua dan ketiga.
Seiring berjalannya waktu, aku tidak lagi memanggil Bang
Alwi dengan sebutan abang, melainkan abah. Hal itu agar anak-anak juga terbiasa
dengan sebutan itu.
Suatu ketika Abah pulang dari pesantren larut malam, tak
biasa beliau sampai latut begini. “Ada rapat penting yang dibahas,”
tutur abah menenangkan diriku sembari mengecup keningku. Aku tersipu malu, rona
merah jambu mulai mewarnai pipi yang kian berseri. Meski status kami suami
istri namun kasih sayang dan perhatian abah selalu menjadikan hatiku dag dig
dug bagai jatuh cinta pertama.
Malam itu kian larut, setelah berendam di air hangat yang
telah aku siapkan, abah memintaku untuk dibuatkan secangkir kopi, beliau
membawa kabar baik untuk kami yang juga menjadi hal terberat bagiku.
“Dik. Kau akan menjadi Ibu Nyai, tak hanya menjadi umi bagi
anak-anak kita juga anak lain yang akan kita didik nantinya?” tutur abah
memberitahuku.
Aku sontak kaget mendengar hal itu. Apakah abah hendak
menjadikan anak-anak orang diluar sana sebagai anak angkatnya?
“Abah hendak mengangkat anak orang?” tanyaku.
Beliau tersenyum. Lalu berdiri memeluk tubuhku dari
belakang.
“Dik, Alhamdulillah sebagaimana rapat yang kita
laksanakan sore hingga malam tadi bersama Kiai Abdullah, semua sepakat menjadikan
abah sebagai pimpinan Pondok Pesantren Al Husnayan cabang kesembilan,”
“Tapi abah, umi belum siap menjadi umi nya anak-anak yang
lain,”
“Sudah. Tidak usah khawatir, abah akan selalu membimbing
dan bersama umi. Bismillah, semoga Allah meridhai langkah kita,”
Setelah mendengar kabar itu, kami kembali sowan ke
rumah ayah dan bunda serta kedua orang tua Abah Alwi, guna memohon ridho dan
doa restu dari beliau semua. Mengingat lokasi pesantren terletak di desa yang
masih terbilang terpencil dan jauh dari keramaian kota.
Sepekan setelah menyelesaikan semua tanggungjawab di
kantor pusat dan sowan ke rumah ayah dan bunda serta kedua orang tua
Abah Alwi. Kami sekeluarga bergegas meninggalkan kota menuju desa terpencil,
memulai kehidupan baru sebagai pimpinan pesantren.
Ya Allah kami pergi meninggalkan kota ini dan kami datang
menghampiri desa itu yang akan menjadi tempat baru bagi kami. Dengan niat
sami’na wa atho’na kepada-Mu, berkahi, rahmati, dan ridhai kami. Aamiin
* * * * *
Memulai kehidupan baru di
tempat yang belum terbiasa merupakan sebuah anugerah sekaligus tantangan bagi
kami, sebab harus menyesuaikan diri. Pepatah mengatakan “Dimana bumi
dipijak, disitu langit dijunjung” sebagai pendatang, seperti itulah cara
kami menghargai dan menghormati adat istiadat disana. Meskipun ada hal yang
tidak bisa kami terima untuk diyakini, namun bukan berarti kami tidak
menghargai ataupun menghormati.
Alhamdulillah niat baik
akan selalu membawa keberkahan hidup, kedatangan kami disambut baik oleh warga
setempat. Sejak hari pertama banyak warga membantu berbenah, rejeki pun tak
henti mengalir, baik makanan, hasil bumi, hingga materi lain kami peroleh dari
sadaqoh warga. Bahkan ada warga yang tidak sabar anak nya untuk segera dititipkan
di pesantren guna menimba ilmu.
Waktu kian bergulir,
perlahan santri Pesantren Al Husnayan semakin bertambah. Namun masih saja
tantangan dan rintangan menghampiri. Seiring berjalannya waktu banyak orang tua
wali santri meminta agar di pesantren juga diadakan sekolah formal, supaya
anak-anak lebih aman dan nyaman di pesantren. Sebab untuk sekolah formal mereka
biasa sekolah diluar.
Dengan berbagai
pertimbangan, kami memutuskan untuk segera membuka sekolah formal tingkat SMP
dan SMA sebagaimana di pesantren pusat dan cabang yang lain. Segala persyaratan
dari yang mudah hingga sulit sekalipun mampu terselesaikan, hingga membuahkan
hasil. Pada tahun itu resmi dibuka sekolah formal di pesantren yang kami
pimpin.
Setelah semua berjalan,
kembali badai kehidupan menerkam.
Memasuki tahun ketiga pasca diresmikannya sekolah formal di pesantren, kami
dihadapkan dengan sekelumit masalah. Pada saat itu satu tahun menuju ujian
nasional, sekolah SMP dan SMK Al Husnayan tidak diperkenankan menggelar ujian
secara mandiri di tahun depan sebab belum terakreditasi. Hal ini menjadi tombak
perjuangan aku dan abah, hanya saja pada tahun ini ada beberapa ustadz dan
ustadzah yang dikirim dari kantor pusat guna mengabdikan diri membantu
pesantren.
Pasca mendapat akreditasi
dari pemerintah pusat, banyak bantuan mengalir bagi sekolah dan pesantren kami.
Sarana prasarana kini mulai terlengkapi, begitupun santriwan dan santriwatinya
kian bertambah setiap tahun.
Kami bersyukur kepada
Allah yang telah memudahkan segala urusan. Kini Pondok Pesantren Al Husnayan
cabang kesembilan menjadi pesantren terbesar di desa dan di kota itu, setiap
tahunnya para santriwan dan santriwati kian bertambah banyak. Hal itu pula
menjadikan Abah Alwi dan Umi Nabila sebagai Kiai dan Ibu Nyai pimpinan pesantren
terbesar di kota itu.
Tahun ini Abah Alwi dan
Umi Nabila, serta ketiga putra dan putrinya memutuskan untuk hijrah ke Mekkah, guna
memenuhi panggilan yang agung sebagai tamu pada musim haji di tahun ini.
Menyempurnakan keimanan sebagai hamba-Nya.
“Maka apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh urusan yang lain,” (Q.S Al-Insyirah Ayat 7).
BIODATA PENULIS
Disisi Saidi Fatah merupakan pemuda berdarah Lampung yang
lahir pada 27 September. Hobi membaca dan menulis menjadikan dirinya kecanduan
sastra. Awalnya ia merasa dunia tulis menulis bukanlah tempatnya, namun seiring
berjalannya waktu kini ia semakin candu untuk menggeluti dunia seni itu. Aktif
sebagai penulis di nulampung.or.id sejak tahun 2017 dan mading.id sebagai
kontributor pengisi warta, serta karya sastra lain (puisi, cerpen, dan opini).
Penyuka warna biru itu mengagumi sosok KH. Yusuf Mansur,
Wirda Mansur, Andrea Hirata, Asma Nadia, dan Ria Ricis. Ia berharap kedepan
bisa menerbitkan buku-buku terbaik yang mampu memotivasi dan menginspirasi
ribuan bahkan jutaan orang, best seller, dan mendapat berbagai
penghargaan serta prestasi, juga dikenal diseluruh penjuru dunia melalui
karyanya. Disisi dapat di hubungi melalui facebook.com/official.disisisf, Instgram
: @itsme1disisi, Blogspot: pecandusastralampung.blogspot.com, YouTube : Pecandu Sastra Netrahyahimsa.
Catatan Kaki/fottnote
[1] Pindah tempat tinggal dengan membawa semua
barang miliknya
[2] Bahasa Latin yang artinya “dengan pujian”.
Dalam dunia perkuliahan berarti lulus dengan predikat baik, dengan IPK diatas
3.50 (WikiPedia)
[3] Menghadap/berkunjung kepada orang yang
dianggap harus dihormati (raja, guru, atasan, orang tua) KBBI*
[4] Diperistri/dijadikan istri

Leave a Comment