Kesalahpahaman Yang Menyatukan

  


       SORE itu ia benar-benar merajuk, hatinya dipenuhi dengan segala amarah. Jantungnya berdegup tak karuan, napasnya tersengal. Kabar yang ia terima sore itu membuat semua berubah, sikapnya semakin kesal. 

       

"Kenapa tidak berterus terang sejak awal. Jika tahu begini yang akan didapatkan, aku enggak akan pernah mau menjadi guru anak-anak. Kan kasihan mereka sudah lelah berlatih setiap hari selama dua pekan ini," gumam Raden dalam hatinya. 

       Kendati demikian, ia tetap bersikap tenang dan tersenyum dihadapan anak-anak yang ia ajarkan menari. Patah hati anak-anak harus ia beri penawar dengan semangat, support, dan senyum darinya sebagai sang pelatih. 
       Dua pekan lalu ia diminta kepala sekolah serta pihak yayasan Deen Salam untuk mencari penari sekaligus menjadi guru tari bagi mereka untuk mengajarkan tarian daerah yang nantinya akan ditampilkan pada acara pelepasan siswa-siswi SMP dan SMK Deen Salam sebagai sambutan agung kepada para petinggi, tamu undangan, dan orang tua wali murid. 

       Sebenarnya Raden merasa minder sebab ia bukanlah seorang seniman, latar belakangnya pun sama sekali tidak ada unsur seninya. Apalagi yang ia ajarkan adalah anak perempuan yang juga merupakan siswi tingkat SMK. Ia adalah pemuda yang pemalu dan tak percaya diri, apalagi berada dihadapan siswi SMK sebab beberapa dari mereka menyukai dirinya. Hal itulah yang menyebab dirinya enggak percaya diri berada didekat murid perempuan dan enggan untuk mengajari siswa-siswi tingkat SMK. Namun disisi lain hal itu ia jadikan tantangan yang memotivasi dirinya untuk keluar dari zona nyaman untuk memberanikan diri dekat murid perempuan. 
        Selain itu juga, hal yang membuat ia lebih semangat ialah tari yang ia ajarkan nantinya merupakan tarian daerah tempat ia berasal; yakni Tari Sigeh Penguten (Tari Sembah Khas Lampung). Mengingat dirinya juga sering memperagakan gerakan-gerakan tarian tersebut, ia juga sering mendapat komentar dari kerabat serta orang-orang terdekat jika dalam dirinya ada bakat seni yang terpendam. 

       "Jadi bagaimana solusinya kang, aku kudu piye iki? " ujar Rahma nyeletuk, logat Jawa medok nya kini keluar. 

       Rahma menjadi tak enak hati kepada Raden, bagaimanapun sebab ialah Raden menjadi guru tari. Ia yang menyarankan agar Raden saja yang menjadi guru anak-anak, pasalnya ia sama sekali tak tahu tari apalagi tarian khas daerah Lampung. 


       Raden terdiam sejenak. Menatap kosong kearah luar jendela pada sanggar tari. Kini hanya tersisa ia dan Rahma yang masih sibuk berdebat akan sekelumit masalah yang menyebabkan anak-anak patah semangat. 

       "Bagaimana ya? " jawab Raden nyambi berpikir. Jari Telunjuk sebelah kanannya memukul kecil bagian kepala sebelah kanan, sesekali berganti memukul bagian dagu. Ia harap ada sesuatu yang terlintas dalam benaknya. 

       "Masa iya Pak Habib berkata demikian, lucu juga kalau anak-anak harus menari mengenakan gamis yang sama sekali tak ada unsur seni sesuai tarian yang dibawa. Apa salahnya jika anak-anak memakai pakaian tari, kan sama sekali tak ada yang aneh apalagi pakaiannya sopan," Raden kembali bergumam memikirkan pendapat Pak Habib sebagaimana dikatakan Rahma padanya. 

       "Baiklah, untuk hari ini latihan kita cukupkan saja. Biarlah anak-anak istirahat terdahulu, esok kita lanjut lagi. Aku minta kau semangati anak-anak supaya mereka tak patah hati dan semakin bersemangat latihan, sementara aku hendak bertemu dengan Pak Habib untuk mengklarifikasi permasalahan ini," tutur Raden meninggalkan Rahma. 
      Selepas itu Raden segera silaturahmi ke gubuk Pak Habib, selaku kepala yayasan Deen Salam. Ia tak ingin rasa kesalnya bertambah, mengingat ia dan anak-anak sudah lelah berlatih selama dua pekan. Sangatlah rugi jika anak-anak batal tampil hanya dikarenakan permasalahan kostum saja, ia pun merasa ada kesalahpahaman antara persepsi ia dan Pak Habib, sebab itu ia tak ingin segera mengambil keputusan. 


        Setelah melakukan tabayyun langsung ke Pak Habib kini semua terungkap. Benar apa yang ada dalam benaknya, semua hanyalah kesalahpahaman. Pak Habib mengira jika anak-anak nantinya tampil di atas panggung menggunakan pakaian tari yang berlengan pendek serta tak memakai jilbab, sebab dari video yang ia lihat ketika anak-anak latihan berpenampilan demikian. Ia sama sekali tidak tahu jika ada pakaian tari yang berlengan panjang dan berhijab, sebab itu ia memutuskan agar nantinya anak-anak tampil mengenakan gamis. 

       Selepas Raden menjelaskan semua kini Pak Habib memahami, Raden pun meminta maaf sebab ia telah menaruh amarah dan kesal kepada pimpinannya itu. Disisi lain ia sebagai manusia sangat memaklumi dirinya, begitu sebaliknya Pak Habib minta maaf sebab telah menyurutkan semangat anak-anak dan Raden selaku pelatih, ia salah dalam mengambil keputusan tanpa bertemu langsung kepada Raden. 

       Sejak permasalah itu usai, semua bersemangat saling support menampilkan yang terbaik. 


                                            Bandar Lampung, 24 Agustus 2020 (Emersia Hotel & Resort)

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

Cerpen ini merupakan karya orisinil penulis, diangkat dari kisah nyata. Mendapatkan predikat terbaik 5  dari 35 peserta yang hadir dalam workshop "Peningkatan Mutu Literasi Bagi Komunitas Penggiat Literasi se-Provinsi Lampung"  yang diselenggarakan oleh Kantor Bahasa Lampung pada Senin, 24 Agustus 2020 di Emersia Hotel dan Resort Bandar Lampung.

No comments

'; (function() { var dsq = document.createElement('script'); dsq.type = 'text/javascript'; dsq.async = true; dsq.src = '//' + disqus_shortname + '.disqus.com/embed.js'; (document.getElementsByTagName('head')[0] || document.getElementsByTagName('body')[0]).appendChild(dsq); })();
Powered by Blogger.